Tampilkan postingan dengan label Pekan Suci. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pekan Suci. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 November 2008

Minggu Palma Tahun A - 16 Maret 2008

Minggu Palma 16 Maret 2008 Mat 21:1-11; 26:14-27:66 dan Yes 50:4-7

10 Maret 2008 14:40

Menyambut Utusan Ilahi!

Rekan-rekan!

Bacaan dalam perarakan liturgi Minggu Palma tahun ini mengisahkan peristiwa penyambutan Yesus secara meriah di Yerusalem (Mat 21:1-11). Di sini Matius menggambarkan kedatangannya sebagai raja yang memasuki kota tempat kemuliaannya yang sejati akan tampak, yakni kebangkitannya. Injil dalam perayaan Ekaristi menelusuri peristiwa-peristiwa dalam Kisah Sengsara menurut Matius mulai dengan pengkhianatan Yudas pada hari Rabu (Mat 26:14-16) yang berkelanjutan Kamis petang (26:17-75 perjamuan malam, penangkapan dan persidangan di Sanhedrin, penyangkalan Petrus), diikuti dengan kejadian hari Jumat (27:1-61 penetapan hukuman bagi Yesus, penyaliban, dan wafatnya, penguburan) dan Sabtu (27:62-66 penjagaan kubur).

Mengapa dia yang disambut meriah di kota kediaman Yang Maha Kuasa membiarkan diri ditolak oleh para pemimpin di situ? Mengapa ia tidak membela diri atau balas menyerang dengan kekuatan masa yang menyambutnya di sana? Dari bacaan pertama dari Yes 50:4-7 dapat diketahui sikap batin orang ini. Ia hamba yang taat seutuhnya pada Yang Mahakuasa, bukan karena ia memang mau menunjukkan ketaatan dengan menjalani segala akibat pilihan ini, melainkan karena kehidupannya memang sudah terarah untuk itu. Sang hamba mengakui bahwa ia diutus untuk menyampaikan Sabda Ilahi kepada siapa saja yang letih lesu, yang tidak lagi mampu mencari tahu kehendakNya. Terlalu capai dengan macam-macam urusan. Sang hamba juga mengakui tiap hari Yang Maha Kuasa sendiri menajamkan pendengarannya sehingga baginya jelas apa kehendakNya. Oleh karena itu ia dapat membawakan kehadiran ilahi ke tengah-tengah umat manusia. Ia tidak melawan bila dimusuhi. Ia membawakan kehadiran yang tidak menggetarkan. Inilah yang masih dikenali orang-orang yang menyambutnya di Yerusalem ketika mereka mendengar kedatangannya. Tetapi segera pendengaran dan penglihatan batin mereka digelapkan oleh sikap penolakan. Namun ia sendiri tetap pada jalannya: membawakan kehadiran ilahi di dalam keadaan apapun.

KEARIFAN - KUASA YANG LEMBUT

Menurut Mat 21:5, kedatangan Yesus di Yerusalem itu peristiwa yang sudah dinubuatkan nabi Zakharia 9:9, "Katakanlah kepada putri Sion (= Yerusalem beserta penghuninya): Lihat Rajamu datang kepadamu. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai betina dan seekor keledai beban yang muda." Kemudian dalam ay. 7 disebutkan, setelah orang-orang mengalasi punggung keledai betina dan anaknya, Yesus pun "menaiki kedua-duanya". Memang menaiki dua keledai itu sama anehnya bagi orang sekarang dan orang dulu. Tapi ini cara Matius mengatakan bahwa nubuat tadi kini sedang dipenuhi. Yang tak bisa dibayangkan secara biasa itu kini terjadi.

Dalam pemahaman Matius dan orang-orang yang penuh harapan pada zaman itu, Mesias yang mendatangi mereka ialah dia yang memiliki wibawa seorang raja (dalam teks Ibrani Zakharia ada penjelasan "ia adil dan jaya" - yang tidak ikut ditampilkan Matius karena sudah jelas) dan sekaligus tokoh yang "lemah lembut", maksudnya, yang dapat memahami kerapuhan manusia. Memang seolah-olah ada dua tokoh: satu sisi kebesaran, sisi lain kelemahlembutan. Kedua-duanya mendatangi Yerusalem bersama. Inilah gagasan yang hendak diutarakan oleh Matius secara surrealistik dengan mengatakan Yesus menaiki keledai betina dan anaknya. Matius mempertajam Markus yang menceritakan Yesus mendatangi Yerusalem menunggang seekor keledai yang belum pernah dinaiki orang (Mrk 11:1-10). Matius mengajak mereka yang mendengar Injilnya melihat dengan mata batin kedua sisi Yesus itu: sebagai raja yang penuh wibawa tapi juga sebagai utusan Tuhan yang lemah lembut. Dengan demikian nanti dalam mengikuti kisah penghinaan, penderitaan, penyalibannya orang akan tetap dapat melihat sisi Yesus yang anggun dan berwibawa itu.

Lebih sukar mengendarai keledai daripada tunggangan lain karena keledai biasanya bukan hewan penurut dan tidak berjalan cepat. Oleh karenanya, sering keledai hanya dipakai untuk mengangkut beban; pemilik berjalan di muka mengarahkannya, tidak menaikinya. Hanya orang yang "pintar" sajalah yang bisa mengendarainya tanpa ada yang menggiringnya di muka. Apalagi keledai yang belum pernah ditunggangi orang! Ingat kisah mengenai Balaam, seorang ahli ilmu gaib yang diminta raja Balak menenung kocar kacir umat Tuhan, tapi akhirnya Balaam yang menunggang keledai betina itu memahami apa dan siapa yang sedang dihadapinya dan tidak jadi menuruti permintaan raja angkara murka itu (Bil 22-24. khususnya 22:21-35). Kini Yesus memasuki Yerusalem di atas keledai, sebagai orang yang tahu mengarahkan tunggangan yang sukar ini. Maka jelas yang hendak dikatakan: ia orang yang penuh kearifan. Ia dapat menyatukan kejayaan dan kelemahlembutan, dua kenampakan yang sulit dibayangkan ada bersama pada diri orang yang sama.

Orang-orang menghamparkan pakaian di jalan ketika Yesus lewat. Apa maksud tindakan ini? Pertama-tama, dia yang lewat itu pasti tidak akan menjejak tanah yang kerap dipakai untuk menggambarkan kerapuhan serta kelemahan manusiawi. Yang mendatangi Yerusalem ini raja yang mengatasi kelemahan dengan kebijaksanaan yang lembut tapi berwibawa. Sekaligus tindakan menghamparkan pakaian itu juga menggambarkan kesediaan orang-orang untuk tunduk kepada dia yang sedang mendatangi dengan kebijaksanaannya itu. Pakaian membuat orang yang memakainya menjadi jelas. Bila dihamparkan berarti yang memakainya sedia menghamparkan diri di muka dia yang sedang lewat. Memang saat-saat ini kekuatan yang mengancam Yesus belum bertindak. Sebentar lagi kekuatan-kekuatan yang mau menyingkirkan kebijaksanaan ini akan tampil. Orang-orang yang menyambut kedatangan Yesus dan menyatakan diri tunduk kepadanya itu nanti juga akan ikut meneriakkan kematian baginya. Terlihat nanti betapa besar dan mengerikannya kekuatan yang melawan kebijaksaan itu. Sedemikian kuat hingga dapat menembus sampai ke lingkungan yang paling dekat dengan Yesus sendiri: Yudas.

KISAH SENGSARA

Kisah sengsara menurut Matius terdiri dari dua bagian. Bagian pertama ialah Mat 26:14 -27:10; bagian ini berawal dan berakhir dengan episode Yudas, yakni Mat 26:14-16 (Yudas menjual Yesus kepada imam-imam kepala) dan 27:3-10 (Yudas mengembalikan 30 perak yang diterimanya dari mereka, lalu menggantung diri). Bagian kedua Kisah Sengsara berawal dengan peran Pilatus (menahan Yesus dan melepaskan Barabas atas desakan imam-imam kepala, Mat 27:11-26) dan berakhir dengan tindakan Pilatus juga (atas permintaan imam-imam kepala ia mengirim penjaga ke kubur agar jenazahnya tidak diambil murid-muridnya pada hari ketiga, Mat 27:65-66). Kehidupan Yesus pada hari-hari terakhir itu memang dijungkirbalikkan oleh Yudas dan Pilatus. Tetapi pembaca yang jeli akan melihat bahwa kedua tokoh ini sebenarnya juga cuma sekadar menjadi tangan kotor "para imam kepala, orang Farisi, tetua-tetua Yahudi", yakni pihak yang membadankan kekuatan-kekuatan yang hendak membatasi gerak utusan ilahi yang datang ke Yerusalem itu.

Kisah tragis Yudas sering kurang didalami maknanya, atau paling-paling ia menjadi sasaran cercaan. Namun lebih membuat kita memahami misteri tindakan ilahi bila dilihat bagaimana Yesus menanggapinya. Ketika mengumumkan dalam perjamuan malam bahwa di antara yang hadir ada yang bakal menyerahkannya, Yesus tidak menuduh siapapun. Bahkan ketika Yudas ikut bertanya apakah dia itu orangnya, jawab Yesus hanyalah "Engkau telah mengatakannya." (Mat 26:25). Kata-kata ini maksudnya sama dengan "Coba pikirkan apa sebenarnya yang sedang kaulakukan ini!" (Bandingan dengan ungkapan sama yang dikatakan dalam interogasi di depan imam agung Mat 26:64 dan di hadapan Pilatus 27:11.) Yudas sebenarnya orang yang terlalu naif. Ia ingin mendapatkan relasi dengan kaum berkuasa, bukan untuk mencelakakan Yesus. Dalam hati kecil kiranya ia berangan-angan, toh Yesus akan dapat menghindari penangkapan dan konsekuensi lebih jauh. Ia kan orang yang luar biasa.

Yudas mempunyai persepsi sendiri mengenai siapa Yesus itu. Inilah yang membuat Yudas celaka. Dia salah satu orang yang terdekat dengan Yesus tetapi tak mau melihat siapa dia dan makin menutup hati dan pikiran sendiri. Yesus telah tiga kali mewartakan bahwa ia akan mengalami sengsara dan mati dan bangkit. Itu jalannya. Murid-murid tidak memahami. Juga Yudas. Tetapi Yudas bukan hanya tak memahami melainkan bertindak gegabah menolak untuk memahami dia. Ia mau mendapatkan keuntungan dengan perhitungan sendiri. Dengan demikian ia menyepelekan kebijaksanaan ilahi. Menurut Mat 26:24 Yesus berkata bahwa yang terjadi pada Anak Manusia, yakni dirinya, sesuai dengan yang dituliskan tentang dia, tapi celakalah orang yang olehnya dia diserahkan. Maksudnya Yudas. Lebih baik baginya sekiranya ia tidak dilahirkan. Artinya, tindakan orang itu sebetulnya tak bakal mengubah jalan yang sedang ditempuh Yesus. Yudas mengklaim bagi dirinya sendiri perkara yang sedang ditindakkan Yang Mahakuasa! Tragisnya, Yudas tidak menyadari hal ini. Ia baru terbangun ketika sudah terlambat. Dan sekali lagi ia masih mengira dapat mengurungkan yang terjadi dengan mengembalikan 30 perak yang diperolehnya. Ia makin terkurung dalam dirinya sendiri. Orang bisa memungkiri Yesus seperti yang dilakukan Petrus atau meninggalkannya seperti murid-murid lain, tetapi mereka tidak mendahului tindakan ilahi. Mereka itu bisa ditolong dan kembali. Tetapi dia yang mendahului tindakan ilahi atau mau mengurungkannya tidak bakal tertolong.

Disebutkan dalam bagian kedua Kisah Sengsara, istri Pilatus semalaman gelisah bermimpi dan keesokan harinya mengirim pesan kepada suaminya agar jangan mencampuri perkara "orang yang benar" itu (27:19). Ini isyarat dari Matius bagi pembaca Injilnya agar menengok kembali ke belakang, ke nasib tragis Yudas. Dengan menyerahkan Yesus sebetulnya Yudas "mencampuri perkara orang yang benar" dan mendapat celaka. Sekaligus pembaca diajak memeriksa dari dekat apakah Pilatus betul-betul mencampuri perkara ini dan sejauh mana. Sekalipun ia ikut campur, semua yang terjadi pada Yesus sebetulnya terjadi bukan karena Pilatus. Malah dalam seluruh bagian kedua kisah sengsara itu Matius memperlihatkan betapa konyolnya sang penguasa itu. Ia membiarkan diri dimanipulasi oleh pemuka-pemuka Yahudi.

Yesus tetap setia pada jalannya. Baginya tetap berlaku gambaran yang bertumpang-tindih antara raja yang jaya dan kelembutan yang membuatnya rapuh di hadapan kekuatan-kekuatan yang sedang berusaha menjungkirbalikkan kebijaksanaan dengan mempergunakan baik Yudas maupun Pilatus. Tapi Yesus tetap berada di dalam garis kebijaksanaan hingga akhir. Inilah kebesaran utusan ilahi yang dirayakan selama Minggu Paskah ini.

Salam hangat,

A. Gianto

Minggu, 16 November 2008

Jumat Agung 21 Maret 2008 - Tahun A



Rekan-rekan yang baik!

Barusan saya membicarakan beberapa perkara tafsir dengan Oom Hans. Ia tak keberatan surat-menyurat kami diperlihatkan kepada para peminat lain. Ada pembicaraan tambahan sekitar kaitan antara Yoh 13:1 mengasihi "sampai pada kesudahannya" (eis telos) dengan Yoh 19:30 "sudah selesai" (tetelestai). Juga ada postscriptum tentang Yes 52:13-53:12 yang dibacakan pada liturgi Jumat Agung.

Salam,

A. Gianto

______________






JUMAT AGUNG: "SUDAH TERLAKSANA!"


Oom Hans yang baik!

Bagaimana kabarnya! Semoga Oom dan Oma Mir sehat walafiat. Ini nih, saya sedang menyiapkan ulasan mengenai tulisan Oom yang dibacakan pada hari Jumat Suci.

Yesus berkata "Sudah selesai!" (Yoh 19:30). Kata seorang rekan, ini ungkapan rasa lega, penderitaan sudah lewat, rampung karya keselamatannya. Tapi saya malah ndak sreg dengan bahasa seperti itu. Rasanya kok kayak peentasan, layar turun, tamat, selesai, kukut. Aslinya Oom kan bilang "tetelestai", dari kata "telos", yakni akhir yang merangkum perjalanan dari awal, yang memberi arti pada semua yang telah dijalani. Rasa-rasanya Yesus mau bilang sudah terlaksana sampai utuh. Kayak versi Latin yang cespleng "consummatum est" dua m itu.Ingat-ingatnya consummatum itu kan dari consummare, con + summa, "merangkum semua jadi utuh", dan bukan dari consumere satu m, "menghabiskan" (makanan/waktu/duit), yang ada hubungannya dengan konsumsi. Untuk "consummatum est", orang Jakarta bilang udah kecapai, kalau di Jawa ya wis klakon. Oom gimana?

Ada lagi soal lain. Kalau ndak salah, Oom mau menggarisbawahi gagasan bahwa Yesus itu kurban Paskah yang diterima Yang Di Atas sana sehingga benar-benar menjadi silih dosanya umat manusia. Karena itu Oom memakai kronologi lain,yaitu penyaliban terjadi sebelum Paskah, ndak seperti Mark dll. yang menaruh Paskah pada perjamuan malam terakhir. Iya kan? Saya sudah pernah katakan di sebuah milis bahwa perjamuan terakhir di mana Yesus membasuh kaki murid-murid itu bukan perjamuan Paskah, melainkan sebelumnya.

Pada awal perjamuan itu Oom sebutkan bahwa Yesus mengasihi orang-orangnya yang di dunia ini dan betul mengasihi "eis telos", sampai pada kesudahannya (Yoh 13:1). Ini sepertinya antisipasi atau padahan bagi kata-kata Yesus " tetelestai", sudah terlaksana, yang diucapkannya pada saat terakhir di salib? Jadi kedua ayat itu saling menjelaskan. Ia mengasihi orang-orangnya sampai terlaksana sesuatu yang mengubah arah hidup mereka, dan hidupnya sendiri, begitu kan?

Salam hangat,

Gus

PS: Ada teman yang tanya nomer HP-nya Oom, mau nunut kirim SMS buat Oma Miryam seperti ini 2UBOK4ever, ;-) + :-)) . Kawan-kawan itu sih sekarang genggamannya hp dan bukan lagi rosario.

______________

Dear Gus, Peace!

You're absolutely right. The truth is, when he uttered "tetelestai" (Yoh 19:30), Jesus was trying to say, "Here I am, I've done everything to the end, now take it all, Father!" The Indonesian version "Sudah selesai" - "It's over" - doesn't sound quite right, I agree. Why not try "Sudah terlaksana /terpenuhi" or something to that effect?

As I said, the word "tetelestai" was spoken by Jesus to his Father. But we overheard it. It teaches much about him, about God, about what love means, the thing he dwelt on during that supper - at first I thought he was just being odd. But then this "consummatum est" is the key to all that. The penny drops!

Glad to hear you see the connection between sudah terlaksana/"tetelestai" here and "eis telos" said about his act during the last supper (Yoh 13:1). Yes, on that background, his death on the cross gives a fuller sense to what "loving one's own who are in the world (=still under the threat of darkness, evil power)" means. He accompanies them, and us, in our darkest moment. We can be sure now that we won't be abandoned by the one sent by the Father to bring us back to Him, the Source of Light.

As for your second question, quite, Jesus is the true Paschal lamb. Not that the Almighty likes blood gushing out of this man, by no means! The point is,his blood acts like the lamb's blood in Exodus 12:13. So when Jesus died on the cross in that sense, the Almighty took him and cast out darkness for good. That's the light of His Word. Did you get it? You're the exegete. By the way, don't try to reconcile my chronology of the passion with Mark's story and all that jazz. The washing of the feet, about which those three young men know nothing, is the preface to the true Passover meal, the sacrifice of the Lamb of God on the cross, not to the last supper. Jesus shares his origin and destiny so that we can become sons and daughters of the Almighty. I read your note on the washing of the feet; I sort of like the idea of taking part in Jesus' "sangkan paran". See, I am no stranger to your cultural heritage.

Ma Miryam is okay. She was amused by the SMS - a young seraph taught her to read the emoticons. She dictated her response: Thanx >:), ;-*. But let's not talk gibberish. I don't use a cell phone. She does. But she prefers to keep her number unlisted.

Regards,

Hans

______________

Oom Hans yang baik!

Terima kasih banyak. Mau nanyak lagi. Ini kelanjutan dari yang di atas. Ketika lembing ditusukkan, yang keluar dari lambung Yesus ialah darah dan air (Yoh 19:34). Apa sih maksud Oom? Mark dkk. tidak tahu perkara itu. Kemarin saya tanya Luc, dia bilang ah, Oom Hans aneh-aneh saja, paranormal sih.

Tolong sampaikan salam buat Oma Miryam begini :-* 4U.

As ever,

Gus

______________

Dear Gus

Like our ancestors, we imagine blood as the seat of life and water as the force that sustains life. With Jesus' death on the cross, there came forth life and life-sustaining force - that's what I was trying to say. I'm no physician like Luc, but I saw more. Didn't I write somewhere in my chapter 19 that I witnessed all this. I still want to share this truth with all of you.

Ugh, it's two am, :-o B4N

Hans

______________



POSTSCIPTUM

Masih ada beberapa soal yang saya bicarakan dengan Oom Hans di beberapa kesempatan lain. Ini ringkasannya. Saya beritahukan kepadanya bahwa dalam liturgi Jumat Agung dibacakan juga Kidung Hamba Tuhan Yes 52:13-53:12. Ada satu hal yang mengusik di situ. Sang hamba itu mengalami penderitaan, dihina, dianggap sama kayak penjahat justru agar mereka yang memperlakukannya dengan kekerasan ini selamat. Tuh disebut dalam 53:4-7 bahwa sang hamba menanggung penyakit kemanusiaan, ia diremukkan karena kejahatan umat manusia,.dan ia diam seribu bahasa dan terus menjalaninya. Lebih aneh lagi dikatakan, coba lihat sendiri, hamba itu "dipukul dan ditindas Allah" (53:4) dan "Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan" (53:10). Aneh kan? Saya tanyakan apa boleh kita pahami bahwa sang hamba itu "tumbal" bagi kedosaan manusia, kambing hitamnya kebobrokan manusia? Untuk membereskan kemanusiaan Yang Maha Kuasa menimpakan hukuman yang semestinya jatuh kepada orang banyak kepada satu orang ini, hamba Tuhan itu? Menarik, tapi apa beres penalaran ini?

Jawaban Oom Hans menarik. Menurutnya boleh saja pakai teori kambing hitam,malah ia tahu ada pelbagai teori yang mirip-mirip yang sudah pernah dipakai: teori silih, denda, ganti rugi, melunasi hutang. Tetapi apa akan sampai ke pokok yang mau disampaikan Kidung itu sendiri? Tantang Oom Hans. Menurut beliau, bila diamat-amati, yang hendak disampaikan dalam kidung tadi ialah peran sang hamba mendamaikan kembali manusia dengan Yang Ilahi. Malah bisa dikatakan lebih tajam lagi, sang hamba mengajak kemanusiaan mengenali kembali jejak-jejak Yang Ilahi dalam dirinya yang semakin sulit dikenal karena manusia sendiri kehilangan kepekaan ke sana. Yang dilakukan hamba itu ialah menunjukkan bahwa keburukan serta kekerasan manusia itu ialah kenyataan yang tidak bisa didiamkan. Oom Hans menyarankan agar teks kidung tadi dibaca dengan empati,sampai bisa rada ikut berpikir dan merasa seperti penyairnya yang lambat laun menyadari bahwa kebobrokan dalam diri kemanusiaan - yakni penderitaan sang hamba - sebenarnya ialah penderitaan masing-masing kita, hanya kita telah terlalu mengemohi dan melupakannya dan ingin melimpahkan ke pihak lain,mengkambinghitamkannya. Lebih ironi lagi, orang malah menganggap bahwa Yang Maha Kuasa juga berlaku begitu: melimpahkan hukuman yang mestinya dijatuhkan ke umat manusia semuanya hanya kepada hambanya yang setia ini. Ayat 4 dan 10 itu sebaiknya dibaca sebagai pernyataan ironi sehingga orang bisa berpikir, bukan diambilalih sebagai dasar penegasan teologis mengenai kelakuan Yang Ilahi menuntut tumbal. Oom Hans menyarankan agar kidung itu dan tentunya kisah sengsara Yesus hendaknya didalami sebagai penjernihan batin guna mengenali keadaan manusia yang tidak menyadarinya penderitaan yang hakiki: sisi kemanusiaan yang gagal menampilkan kehadiran ilahi, dan hanya kekerasan yang entah dari mana muncul. Sang hamba dalam kidung itu menggugah orang untuk mulai sadar akan ketimpangan ini. Juga penderitaan dan kematian Yesus di kayu salib hendaknya membuat orang berpikir kembali mengenai kemanusiaan sendiri. Bila ini tafsir ini diteruskan, kita memang tidak perlu memakai gagasan tumbal atau kambing hitam dan teori-teori lain yang sifatnya statis, hanya potret kaku dua dimensi. Yang disarankan Oom Hans ialah melatih kepekaan batin mengenali jejak-jejak ilahi dalam kemanusiaan sendiri sejelek, sehina apapun. Dan jejak-jejakNya akan makin terang dan membawa kedekatNya sendiri.

Salam dari Jakarta,

A. Gianto

Dari http://www.mirifica.net/ - Jendela Alkitab

Kamis Putih 20 Maret 2008 (Yoh 13:1-15 dan Kel 12:1-8; 11-14)




Rekan-rekan yang budiman!

Hanya dalam Injil Yohanes sajalah dijumpai kisah pembasuhan kaki para murid (Yoh 13:1-15) yang dibacakan pada Pesta Perjamuan Tuhan pada hari Kamis Putih.Memang lazim orang membasuh kaki sendiri sebelum masuk ke ruang perjamuan sebagai ungkapan datang dengan bersih. Dan hanya tamu yang amat dihormati saja,misalnya seorang guru atau orang yang dituakan, akan dibasuh kakinya. Bila dilakukan, akan dijalankan sebelum perjamuan mulai. Tetapi Injil Yohanes menceritakan kebalikan peran-peran tadi. Yesus sang guru itu membasuh kaki para muridnya. Lagi pula pembasuhan ini terjadi selama perjamuan sendiri, bukan sebelumnya. Jadi memang hendak dikatakan ada hal yang tidak biasa. Kiranya pembasuhan kaki di sini ditampilkan bukan semata-mata sebagai tanda memasuki perjamuan dengan kaki bersih, tetapi untuk menandai hal lain. Apa itu? Baiklah didekati kekhususan Yohanes dalam menyampaikan kejadian-kejadian terakhir dalam hidup Yesus.




KAMIS PUTIH: PEMBASUHAN KAKI

KAITAN DENGAN BACAAN PERTAMA Kel 12:1-8; 11-14.

Yohanes menyampaikan kejadian pada hari-hari terakhir Yesus dengan cara yang agak berbeda dengan ketiga Injil lainnya. Dalam Injil Markus, Matius dan Lukas,kedatangan Yesus ke Yerusalem mengawali peristiwa-peristiwa yang mengantar masuk ke dalam penderitaan, kematian dan kebangkitannya nanti, termasuk di dalamnya perjamuan Paskah. Yohanes lain. Kedatangan Yesus ke Yerusalem dan pembersihan Bait Allah dipisahkan dari peristiwa salib dan kebangkitan. Bagi Yohanes,serangkaian kejadian yang berakhir dengan kebangkitan itu justru berawal pada perjamuan malam terakhir. Berbeda juga dengan ketiga Injil lainnya, perjamuan ini bukan perjamuan Paskah, melainkan perjamuan malam yang diadakannya sebelum Paskah. Bagi Yohanes, Paskah yang sejati terjadi dalam pengorbanan Yesus di salib.

Dengan demikian Injil Yohanes membaca kembali pengorbanan Yesus di salib sebagai perayaan Paskah yang dahulu mulai sebagai peringatan saat Tuhan mulai memimpin umatNya keluar dari tanah Mesir dengan kuasa besar sebagaimana dibacakan dari Kel 12:1-8; 11-14. Darah domba kurban Paskah yang dahulu dioleskan pada bingkai pintu rumah (Ke. 12:8) menandai darah yang terpoles pada kayu salib. Salib menjadi ambang memasuki hidup baru bersama Yang Ilahi. Bingkai pintu yang terpoles darah domba itu juga menjadi tanda bahwa di rumah itu tinggal umat yang akan dipimpin keluar dari tanah Mesir dan penghuninya tidak dihukum Tuhan (Kej 12:12-13). Salib yang ditandai darah pengorbanan Yesus menjadi tanda bahwa yang berada di balik salib itu ialah orang-orang yang diselamatkan. Namun dalam peristiwa perjamuan yang dikisahkan Yohanes, semua ini baru terjadi nanti pada saat Yesus disalibkan, wafat, dan kurbannya menjadi tanda keselamatan siapa saja yang ada bersamanya. Sekarang, dalam perayaan perjamuan malam sebelum Paskah hendak disampaikan bagaimana semua ini bisa terjadi, bagaimana pengorbanan ini memang dimaui oleh Yang Maha Kuasa dan utusannya, yakni Yesus, kini siap menjalankannya. Pengorbanan ini dijalaninya karena mengasihi "sampai pada kesudahannya" yang diungkapkan Yohanes pada awal perjamuan ini (Yoh 13:1). Marilah kita simak dari dekat peristiwa perjamuan ini


MEMBASUH KAKI PARA MURID

Yohanes juga menekankan, Yesus sadar bahwa dirinya "datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah" (ay. 3). Karena itu mereka yang mengenalnya akan mengenali Yang Ilahi dari dekat. Ini semua diajarkan Yesus kepada para murid terdekat pada perjamuan malam terakhir itu dengan membasuh kaki mereka. Dia yang sadar berasal dari Allah dan sedang kembali menuju kepadaNya ingin menunjukkan bahwa orang-orang terdekat itu sedemikian berharga, sedemikian terhormat. Lebih dari itu, ia ingin berbagi "sangkan paran" - dari siapa dan menuju ke siapa - dengan mereka. Inilah yang dimaksud dengan mengasihi "sampai pada kesudahannya" (ay. 1, Yunaninya "eis telos"). Tidak setengah-setengah melainkan hingga tujuan kedatangannya terlaksana, yakni membawa manusia ke dekat Allah, asal terang dan kehidupan.

Petrus terheran-heran dan tak bisa menerima gurunya membasuh kakinya. Yesus mengatakan bahwa kelak ia akan mengerti walaupun kini belum menangkapnya (ay.6-7). Tetapi Petrus belum puas dan bersikeras menolak dibasuh kakinya oleh gurunya itu. Pada saat inilah Yesus menjelaskan, " Jikalau aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam aku." (ay. 8). Dia yang "sangkan paran"-nya ialah Allah sendiri mau berbagi kehidupan dengan para murid. Dan berbagi asal dan tujuan kehidupan inilah jalan keselamatan bagi manusia. Bila asal dan akhir itu Allah sendiri, tentunya yang di maksud ialah Allah sumber terang, sumber kehidupan. Utusannya itu datang ke dunia yang masih berada dalam ancaman kuasa gelap untuk membawa kembali orang-orang yang dekat padanya kembali ke sumber terang, kepada Allah, ke sumber kehidupan sendiri. Itulah "sangkan paran" yang diungkapkan di dalam perjamuan ini.

BERBEKAL TELADAN

Pada kesempatan itu Yesus juga mengatakan bahwa pembasuhan kaki itu disampaikan sebagai teladan bagi para murid, agar mereka berbuat seperti itu satu sama lain (ay. 15). Teladan ini kemudian menjadi bekal kehidupan orang-orang yang percaya bahwa Yesus itu datang dari Allah dan pulang kepadaNya setelah berhasil memperkenalkan siapa Allah itu sesungguhnya. Boleh dikatakan saat itulah lahir kumpulan orang yang hidup berbekal sikap Yesus yang menganggap sesama sedemikian berharga sehingga pantas dilayani dan dihormati. Inilah Gereja dalam ujudnya yang paling rohani, paling spiritual.

Dalam arti inilah Gereja berbagi "sangkan paran" dengan Yesus sendiri. Hidup mengGereja yang berpusat pada ekaristi baru bisa utuh bila dijalani dengan bekal yang diberikan Yesus tadi. Hanya dengan cara itu Gereja akan tetap memiliki integritas. Memang masih berada di dunia, masih berada dalam kancah pergulatan dengan kekuatan-kekuatan gelap, tetapi arahnya jelas, ke asal dan tujuan tadi: ke Sumber Terang sendiri bersama dengan dia yang diutus olehNya.

Karena itu tak perlu heran bila para murid - dan Gereja - tidak semuanya bersih. Yesus berkata dalam ay. 11 "Tidak semua kamu bersih." Kata-kata itu bukan mencela melainkan mengakui kenyataan bahwa ada kekuatan-kekuatan gelap.Nanti pada saat ia kembali kepada Allah, kekuatan ilahi akan tampil dengan kebesarannya dan saat itu jelas kekuatan-kekuatan gelap tidak lagi menguasai meskipun tetap dapat menyakitkan. Penderitaan ini tidak akan memporakperandakan kumpulan orang-orang yang percaya kepadanya. Malah menguatkan harapan.


Salam dari Jakarta,

A. Gianto


Dari - http://www.mirifica.net/ - Jendela Alkitab