Sabtu, 22 November 2008

Injil HR Kristus Raja Semesta Alam tahun A - 23 November 2008

Injil Minggu 23 November 2008: Hari Raya Kristus Raja (Mat 25:31-46)

19 November 2008 06:00

Injil Minggu 23 November 2008: Hari Raya Kristus Raja (Mat 25:31-46)

MENGAPA IA DISEBUT RAJA?

Rekan-rekan yang baik!

Digambarkan dalam Mat 25:31-46 bagaimana pada akhir zaman nanti Anak Manusia akan datang sebagai raja yang bakal "menghakimi semua bangsa". Diutarakan di sana bahwa pahala akan diterima oleh mereka yang berbuat baik kepadanya ketikaia lapar, haus, tak ada kenalan, telanjang, sakit, bahkan dipenjara. Mereka yang tak punya kepedulian akan tersingkir. Mereka tidak menyadari bahwa perlakuan kepada salah satu dari saudaranya yang paling hina sama dengan perbuatan terhadapnya sendiri. Bagaimana memahami ajaran Injil yang dibacakan pada hari raya Kristus Raja Semesta Alam tahun A ini? Beberapa hal saya sudahbicarakan dengan Matt sendiri. Karena akan berguna bagi rekan-rekan, berikut ini saya kutipkan balasannya. Ia juga ada pesan khusus pada akhir suratnya.

Semoga bermanfaat,A. Gianto.=======================================


[...] Gus, pengajaran Yesus ini kutemukan dalam sumber yang tidak dikenal Mark maupun Luc. Juga Oom Hans tidak menyebutnya. Bahan itu kemudian kutaruh bersama dengan beberapa pembicaraan lain mengenai akhir zaman dalam bab 24-25 denganpenyesuaian di sana sini. Juga kusisipkan perumpamaan Anak Manusia memisahkan bangsa-bangsa ibarat "gembala memisahkan domba dari kambing" (Mat 25:32). Yang dimaksud di sini, penghakiman itu tidak terjadi dengan semena-mena. Ia mengenalmereka sebagai gembala mengenal kawanannya satu per satu. Ia tahu siapa yang membiarkan diri diberkati. Seperti domba-domba, mereka ini akan diberinya tempat aman di sebelah kanannya. Tetapi yang menyukai kekerasan – seperti kambing - akan dijauhkannya.

BILA DIA DATANG DALAM KEMULIAANNYA

Apakah ini ramalan? Sama sekali bukan bila yang dimaksud ialah "pengetahuan gaib tentang masa depan". Yang hendak disoroti ialah keadaan yang sedang berlangsung kini. Begini, kita biasa memahami masa sekarang sebagai kelanjutan dan akibat peristiwa-peristiwa di masa lampau. Nah, dalam petikan ini semuanya digeser ke depan dan dengan demikian dapat menjadi pengarahan dan harapan. Keadaan sekarang ini dibayangkan sebagai "masa lampaunya" kejadian "kelak". Namun pengertian kami mengenai jalannya sejarah tidak seperti mesin, bila begini pasti begitu. Kami justru melihat adanya unsur pokok yang tidak dikuasai hukum-hukum perjalanan waktu, yakni kehadiran Yang Ilahi. KehadiranNya bias memberi arah baru pada sejarah kemanusiaan dengan cara-cara yang tidak kita duga sama sekali. Baru kita sadari setelah terjadi. Dan yang kalian dengarkan hari ini ada dalam arah itu. Kehadiran Yang Ilahi itu dibicarakan dengan memakai gagasan tampilnya "Anak Manusia" dalam kemuliaannya tapi yang tidaklangsung dikenali. Orang bertanya "Kapan kami melihatmu...?

"Anak Manusia" di sini berhubungan erat dengan yang sosok yang digambarkan dalam Dan 7:13. Di situ Daniel melihat ada sosok yang "seperti anak manusia" datang mengarah kepada Yang Mahakuasa untuk menerima kuasa atas bumi dan langit. Lihat, kuasa ini diberikan bukan kepada malaikat, atau makhluk ilahi, melainkan kepada tokoh yang memiliki ciri-ciri sebagai manusia itu. Dikatakan bahwa ia "mengarah" ke Yang Mahakuasa. Dia melambangkan kemanusiaan yang terbuka bagi keilahian, tidak menutup diri atau malah mau menyainginya. Semua ini ikut disampaikan dalam pengajaran Yesus dalam petikan Injil hari ini. Anak Manusia tampil sebagai dia yang kini menduduki tahta kemuliaannya tetapi tetap mengarahkan diri kepada Yang Mahakuasa. Dalam ay. 34 ia malah terang-terangan menyebutNya sebagai Bapa yang telah menyiapkan tempat bagi mereka yang diberkati.

Dalam bahasa yang dipakai Yesus, bahasa Aram, ungkapan "anak manusia" itu ungkapan sehari-hari dan artinya sama dengan "manusia", tapi dengan penekanan pada sifatnya sebagai makhluk di hadapan Pencipta. Dalam alam pikiran kami, seluruh umat manusia itu makhluknya Yang Mahakuasa. Yesus beberapa kali merujuk pada dirinya sendiri sebagai "Anak Manusia". Ia hendak mengatakan, ia tahu tempatnya sebagai manusia di hadapan Pencipta. Hidupnya berasal dari Dia. Karena itu, Yesus mengajarkan bahwa Sang Pencipta dapat dipanggil sebagai Bapa. Coba ucapkan doa Bapa Kami - di situ terpeta siapa Dia yang dapat dipanggil Bapa tadi.

Ingat kisah pengakuan Petrus bahwa Yesus itu Mesias - Yang Terurapi – Anak Allah yang hidup (Mat 16:16)? Tetapi kemudian Yesus melarang murid-muridnya memberitahukan kepada siapa pun bahwa ia Mesias (16:20). Ia malah berbicara mengenai penderitaannya; ia bakal ditolak, dibunuh, tetapi akan dibangkitkan pada hari ketiga (16:21). Kata "ia" yang kupakai di situ menjelaskan makna ungkapan aslinya, yakni "Anak Manusia", yang ada dalam tulisan Mark yang menjadi sumberku (Mrk 8:31). Luc malah menampilkannya jelas-jelas dalam ujud kutipan langsung (Luk 9:22). Yesus ingin agar murid-muridnya mengerti terlebihdahulu bahwa ke-Mesias-annya itu hanya berarti bila disertai pengakuan diri sebagai makhluk di hadapan Pencipta. Juga baru dengan demikian ia dapat tampil sebagai Mesias yang senasib sepenanggungan dengan manusia.

BAGI SIAPA SAJA

Kau bertanya apakah "semua bangsa" dalam Mat 25:32 merujuk kepada seluruh umat manusia, seperti kerap ditafsirkan. Terus terang bukan itulah yang kupikirkan. Kau tahu kan, istilah ini berasal dari tradisi Perjanjian Lama. Di situ "bangsa-bangsa" ialah mereka yang tidak termasuk "umat Allah", yakni yang bukan orang Yahudi. (Bdk. Mat 24:14, juga 28:19 yang kaubicarakan bagi Pesta Kenaikan Tuhan.) Tetapi di kalangan kami juga timbul pertanyaan yang mengusik batin. Dapatkah "bangsa-bangsa" itu ikut masuk hidup abadi? Atau mereka tak masuk hitungan? Memang kami beruntung karena jadi bangsa terpilih, tapi kami kan takboleh melupakan orang lain.

Menurut Yesus, keselamatan "bangsa-bangsa" itu bergantung pada perlakuan mereka kepada sang raja ketika ia lapar, haus, tak ada tumpangan, telanjang, sakit, dipenjara. Tapi ketika mereka bertanya kapan mereka ada kesempatan berbuat demikian terhadap dia, sang raja menjawab, yang kalian perbuat terhadap "salah seorang (saudaraku) yang paling hina ini" (ay. 39 dan 45) sama dengan yang kauperbuat terhadapku. Maksudnya orang yang termasuk kaumnya sang raja, termasuk bangsa terpilih. Yesus tidak menghapus tradisi mengenai bangsa terpilih, tetapi malah mengembangkannya. Jawaban ini genial. Mereka yang di luar lingkungan bangsa terpilih dapat ikut menikmati keselamatan bila mereka menghargai yang paling kecil dari bangsa terpilih tadi.

Penting kalian ketahui, pembicaraan tadi ditujukan terutama kepada kami, yakni para pengikut Yesus yang berasal dari lingkungan Yahudi, yang merasa lebih beruntung daripada "bangsa-bangsa". Mereka sendiri bukanlah pendengar yang dimaksud. Karena itu janganlah petikan ini ditafsirkan sebagai imbauan kepada mereka agar berbuat baik kepada orang seperti kami, berikut janji pahala dan ancaman hukuman. Yesus bukan guru yang naif. Sapaannya itu sebenarnya diarahkan kepada kami yang merasa sudah mengikuti dia. Ia mau berkata, bangsa-bangsa itu akan ikut selamat bila kalian membiarkan diri menjadi jalan bagi mereka.Hiduplah menurut kehendak Bapa, jadilah "saudaraku" yang sungguh, sehingga orang luar - "bangsa-bangsa" itu - dapat melihat integritas kalian dan memperlakukan kalian dengan baik.

Terlihat betapa manusiawinya ajaran Yesus itu tapi juga betapa luhurnya Anak Manusia yang mengajarkan semua ini. Tak heran ia disebut Raja semesta alam! Inilah corak universal ajarannya. Seperti dikisahkan teman kita Luc, komunitas pengikut Yesus diperkaya dengan ikut sertanya "bangsa-bangsa", yakni orang-orang seperti Kornelius dan orang-orang yang mendengarkan pewartaan Paul di mana-mana.

SARAN DAN PESAN

Bukan maksudku mengajak kalian memandangi zaman lampau melulu. Aku tahu kalian memahami diri sebagai umat Allah yang baru. Begitu kan teologi Gereja kalian? Konsekuensinya, kalian diharapkan berani menjadi "saudara"-nya Yesus, sekecilapapun, sehina manapun Bisakah kalian menerima kenyataan Sabda Bahagia? Kalau ya, teruskan, dan kalian akan menjadi jembatan emas bagi "bangsa-bangsa" di zaman kalian. Terus terang sampai hari ini aku masih gelisah memikirkan apananti akan ada yang terpaksa perlu ditempatkan di sebelah kiri dan dienyahkan. Bila ya, artinya kami gagal membuat pihak-pihak lain melihat bahwa kepercayaan yang kami hayati itu patut mereka tanggapi baik-baik. Kami juga akan merasa kurang mampu menunjukkan diri betul-betul saudara raja tadi. Gus, mintakan pertolongan rekan-rekan, tutuplah kekurangan kami di masa lampau dengan yang bisa kalian buat sekarang. Dan kami akan lebih tenang. Kalian itu sambungan hidup kami!

Ini juga penghabisan kalinya Injil Matius kalian bacakan pada hari Minggu. Gus, terima kasih telah berusaha menguraikan kisah-kisahku tentang Yesus bagi orang zaman kini. Tidak perlu kita selalu sekata mengenai semua hal. Bila begitu nanti khazanah Injil malah tidak tertimba. Bila dua ahli Kitab saling mengulang, apa yang bisa dituai pendengar? Itu itu juga! Kita kan dididik agarberani memasuki liku-liku teks agar semakin diperkaya dalam berinteraksi dengannya. Dan teksnya sendiri akan mekar jadi indah. Bila begitu peneliti teks boleh berkata, dalam bahasa Yunani, "matheeteutheis" (Mat 13:52), artinya, "telah memperoleh hikmat pengajaran". Ah, tak usah menduga-duga apa bunyi kata itu mau mengingatkan nama resmiku, "Maththaios".

Mulai Minggu depan kalian akan lebih sering mendengarkan Mark. Juga Oom Hans akan datang. Mark itu hemat kata. Ia mengikhtisarkan ceramah-ceramah Petrus di Roma bagi pendengar yang ingin tahu siapa Yesus Kristus itu. Luc dan akusendiri berhutang banyak kepada Mark. Dan juga Oom Hans, meski beliau baru menerbitkan bukunya setelah kami semua selesai menulis! Kalian pasti akan belajar banyak dari mereka berdua. Dan engkau sendiri masih akan menulis tentang mereka kan?

Selamat tinggal! Sampaikan salam kepada rekan-rekan di Internos!


Dariku,

Matt



Selamat Paskah!

TUHAN TELAH BANGKIT!


Bacaan-bacaan Injil dalam perayaan Malam Paskah dan hari Minggu Paskah memuat warta tentang kebangkitan Yesus. Namun, bagaimana kebangkitan itu terjadi, dengan cara apa, kapan persisnya, serta apa gelagat yang menyertainya, tidak ada yang melihatnya sendiri. Tak ada laporan pandangan mata mengenai peristiwa kebangkitan itu sendiri. Kenyataan ini tetap tersembunyi tapi dapat diikuti jejak-jejaknya. Dan juga kesetiaan orang untuk mencari dia yang tadinya wafat dan dimakamkan itu besar peranannya. Kisah-kisah Injil memuat dua pokok yang mendasari munculnya kepercayaan bahwa Yesus telah bangkit, yakni makam yang kosong dan keyakinan orang-orang yang terdekat bahwa ia tidak lagi berada diantara orang mati. Kesaksian ini kemudian dikembangkan lebih lanjut dengan kisah-kisah penampakan dia yang telah bangkit itu. Marilah kita tengok lebih dekat kisah dalam Mat 28:1-10 (Injil Misa Malam Paskah); Yoh 20:1-9 (Injil Misa Paskah pagi ); dan Luk 24:13-35 (Injil Misa Paskah sore).

INJIL MISA MALAM PASKAH: Mat 28:1-10

Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu beberapa perempuan mendatangi tempat Yesus dikuburkan. Di situ mereka mengalami sesuatu yang luar biasa: diiringi gempa bumi, malaikat Tuhan turun menggolekkan batu makam dan duduk di atasnya. Wajahnya berkilauan dan membuat para penjaga makam gentar. Seperti lazimnya, Injil-Injil menampilkan peristiwa yang sama dengan seluk beluk yang berlainan. Mat 28:2 sebenarnya mengolah kembali yang dikatakan Mrk 16:5 mengenai "seorang muda berjubah putih". Lukas menyebut dalam "dua sosok" mengikuti tradisi komunitasnya (Luk 24:4; dekat dengan tradisi Yohanes, lihat Yoh 20:11-13). Juga ada perbedaan mengenai siapa yang datang ke makam. Matius mencatat, mereka itu Maria dari Magdala, dan Maria "yang lain" (Mat 28:1). Lukas menyebut Maria Magdala, Yohana, dan Maria ibu Yakobus (Luk 24:10). Markus juga b erbicara mengenai tiga perempuan, tetapi yang bernama Yohana menurut Lukas itu disebut sebagai Salome (Mrk 16:1). Yoh 20:1 hanya menampilkan Maria Magdalena dan penampakan kepadanya tidak langsung terjadi pada saat itu. Baru nanti setelah kembali dari melaporkan kosongnya makam kepada Petrus dan murid lain, Maria memperoleh penampakan dua sosok malaikat dan kemudian Yesus sendiri (ay. 11-18). Walaupun berbeda-beda, keempat Injil itu berpusat pada kenyataan bahwa makam sudah kosong. Pembaca atau pendengar Injil tidak diharapkan melacak siapa-siapa datang ke kubur dan bagaimana jalannya peristiwa yang satu kepada yang lain. Sebaliknya, kita diajak ikut merasa-rasakan keanekaragaman pengalaman mereka.

Matius menekankan bahwa Yesus kini sungguh-sungguh hidup dan murid-murid dipesan agar pergi ke Galilea dan di sana mereka akan melihatnya. Di sanalah para murid yang kini masih tercerai berai dan bersembunyi itu dapat berkumpul kembali dengan Yesus dan mengawali hidup sebagai murid dengan cara baru. Sementara ini hanya murid-murid perempuan sajalah yang masih bisa menjadi penghubung di antara para murid. Lewat para perempuan inilah kelompok-kelompok yang terpisah-pisah tadi dikumpulkan kembali. Gagasan ini juga diungkapkan Markus (Mrk 16:7). Lukas agak lain tapi maksudnya sama. Baginya tempat yang memberi hidup baru itu ialah Yerusalem. Tetapi setelah kebangkitan, tempat itu berubah dari kota yang menolaknya menjadi kumpulan orang yang menerima kehadirannya. Yohanes tidak jelas-jelas menyebut nama tempat itu. Ia hanya mencatat bahwa para murid berkumpul dalam rasa takut kepada para penguasa Yahudi (Yoh 20:19). Tapi pada saat-saat itulah Yesus menampakkan diri kepada mereka memberi kekuatan dengan meniupkan Roh (ayat 22-23). Tempat kegelisahan menjadi tempat damai. Entah itu Galilea atau Yerusalem atau tempat mana pun, yang diwartakan Injil ialah suasana rohani yang memungkinkan orang berkumpul kembali dan memperoleh kekuatan dari guru mereka yang telah bangkit itu.

Kembali ke kisah Matius mengenai kedua perempuan yang pergi ke makam dalam Mat 28:1-10. Di situ mereka mendapati Yesus tidak di situ lagi. Makam kosong. Tapi ada malaikat yang pakaiannya berkilauan yang mengatakan agar mereka sungguh menyadari bahwa yang mereka cari tidak ada lagi di situ karena telah bangkit. Mereka disuruh melihat tempat Yesus tadinya dibaringkan. Tak ada lagi di situ. Dan malaikat itu menyuruh mereka memberi tahu para murid bahwa Yesus yang sudah bangkit tadi mendahului mereka ke Galilea. Hendaknya para murid ke sana juga dan mendapatinya. Maka kedua perempuan itu dengan rasa cemas-cemas gembira segera pergi mengabarkan semuanya kepada para murid. Pada saat itulah Yesus menjumpai mereka dan memberi salam damai. Mereka pun memeluk kakinya dan sujud kepadanya.

Ini ungkapan bahwa mereka betul-betul percaya bahwa Yesus telah bangkit dari kematian. Yesus menyuruh mereka mengabarkan kepada saudara-saudaranya, yakni murid-murid terdekat, agar pergi ke Galilea dan di sana mereka akan melihatnya. Kata-kata ini menegaskan kembali yang diucapkan malaikat tadi. Bagi Lukas, ketiga perempuan yang mendatangi kubur mendapati dua sosok. Dalam Markus hanya seorang muda saja yang tampak kepada perempuan-perempuan yang datang ke makam. Seperti disebut di atas, Yohanes baru menceritakan penampakan setelah Maria Magdalena kembali dari mengabarkan kosongnya kubur. Namun demikian keempat Injil itu sama-sama mengatakan memang makam telah kosong, artinya Yesus tak ada di antara orang mati lagi. Ia telah bangkit. Dan murid-murid yang kini tercerai berai akan dikumpulkan kembali, bukan dalam ketakutan melainkan dalam suasana damai yang mereka bawa dalam batin mereka. Bagi kita zaman ini, tetap ada imbauan agar kita pergi ke tempat damai tadi, yakni Galilea batin, Yerusalem rohani, dan tempat berkumpul yang akan ditamui Yesus sendiri. Itulah Paskah bagi murid-murid sepanjang zaman, di mana saja.

INJIL MISA PASKAH PAGI: Yoh 20:1-9

Yohanes mengisahkan Maria Magdalena yang mengunjungi makam dan melihat batu penutup telah diambil dari kubur. Maka ia segera berlari mendapatkan Petrus dan murid lain yakni "murid yang dikasihi" Yesus dan menyampaikan berita bahwa Yesus diambil orang dan tak diketahui di mana sekarang. Maka Petrus dan murid yang lain itu berlari ke makam. Murid yang lain tadi sampai terlebih dahulu dan menjenguk ke dalam kubur dan melihat kain kafan terletak di tanah. Petrus datang ke situ dan masuk dan mendapati juga kafan terletak di tanah. Keduanya mendapati makam kosong, kafan pembalut mayat terletak di tanah. Kesimpulan pembaca: ia sudah bangkit.

Murid yang lain yang tadi ada di luar itu kemudian masuk ke makam dan dikatakan "ia melihatnya", maksudnya "melihat petunjuk bahwa Yesus tidak lagi ada di makam, "dan ia percaya". Ia percaya bahwa ia telah bangkit. Menarik bila kita periksa pengalaman pembaca Injil Yohanes. Di sini sang pembaca lebih dahulu menarik kesimpulan bahwa Yesus sudah bangkit dan baru kemudian Injil mengisahkan murid yang lain yang menjadi percaya. Ini teknik berkisah Yohanes yang pintar. Ia membuat siapa yang mengikuti kisahnya, ikut berlari ke makam bahkan akan dapat datang mendahului murid yang dikasihi dan Petrus sendiri. Dan juga mendahului percaya Yesus sudah bangkit.

Nanti dalam Luk 24:35 ketika dua murid melaporkan kepada kesebelas murid di Yerusalem mengenai penampakan Yesus di Emaus, mereka yang di Yerusalem itu juga menegaskan bahwa "Tuhan telah bangkit dan menampakkan diri kepada Simon". Akan tetapi, Lukas tidak menceritakan Petrus secara khusus mendapat penampakan Tuhan. Memang dalam 1Kor 15:5, Paulus menyebut bahwa Yesus menampakkan diri kepada Kefas, yaitu Petrus, dan menyebutkan murid-murid lain. Namun demikian, apa yang dialami Petrus sesungguhnya? Rasa-rasanya memang dengan sengaja Lukas hanya menyebut Petrus "heran memikir-mikirkan apa yang telah terjadi" (Yunaninya, "thaumazoon to gegonos"). Pendengar Injil diajak ikut serta dalam pengalaman Petrus mengenai "apa yang telah terjadi itu", yakni Yesus tidak lagi berada di tempat orang mati dan hanya kain kafannya yang ada di situ. Petrus akan sampai pada kesadaran bahwa Yesus sudah bangkit.

INJIL MISA PASKAH SORE: Luk 24:13-35

Hingga kini dikenal kisah kebangkitan dari pengalaman ketiga wanita di makam yang kosong yang ingat akan perkataan Yesus dahulu dan pengalaman Petrus menemukan makna peristiwa ini. Dua jalan itu membawa masing-masing dari mereka untuk sampai pada pengalaman iman mengenai kebangkitan. Ada jalan lain, yakni penampakan, seperti yang dialami kedua murid yang berjalan ke Emaus yang diceritakan di dalam Luk 24:13-35.

Kedua murid itu tidak segera sadar bahwa orang yang menyertai mereka dalam perjalanan ke Emaus ialah Yesus yang telah bangkit. Kepada mereka Yesus yang kelihatan sebagai musafir itu menjelaskan kejadian-kejadian mengenai dirinya yang telah dikatakan dalam Kitab Suci. Jadi, sepanjang perjalanan itu kedua murid tadi "membaca kembali" warta Kitab Suci mengenai Yesus. Mereka tidak sadar bahwa Yesus ada bersama mereka dan menolong mereka agar mengerti lebih dalam warta Kitab Suci. Mata mereka baru terbuka ketika ia makan bersama mereka dan melakukan hal yang sama seperti yang terjadi pada perjamuan terakhir. Akan tetapi, saat itu juga Yesus lenyap. Yang tinggal ialah kesadaran bahwa ia kini hidup. Kesadaran inilah yang membuat mereka mengabarkan kepada kesebelas murid di Yerusalem dan orang-orang lain yang beserta mereka.

Ada pelbagai jalan sehingga orang sampai kepada pemahaman bahwa Yesus telah bangkit. Pada intinya, tiap jalan itu membangun hubungan antara kejadian yang mengguncang batin dan kata-kata tentang kejadian yang telah didengar sebelumnya dari Yesus atau dari Kitab Suci atau dari kesaksian orang yang percaya Yesus sudah bangkit. Mungkin kebanyakan dari kita akan menempuh jalan yang ketiga dan jalan kedua. Dalam tiap jalan itu, Tuhan sendiri menolong orang untuk percaya.

CATATAN MENGENAI PENAMPAKAN

Dari uraian di atas, jelas penampakan hanyalah salah satu jalan bagi kepercayaan akan kebangkitan Yesus. Bukan satu-satunya jalan. Berikut ini sekadar catatan mengenai peristiwa penampakan Tuhan. Bila diperhatikan,kisah-kisah penampakan seperti diceritakan dalam Perjanjian Baru memuat tiga unsur utama berikut ini:

Pertama, yang mendapat penampakan tidak segera mengenali Tuhan yang sedang menampakkan diri: kedua murid dalam perjalanan ke Emaus mengira sedang berbicara dengan musafir yang tak tahu apa yang baru terjadi di Yerusalem (Luk 24:13-35, terutama ay. 18), Maria Magdalena mengira bertemu dengan penunggu taman (Yoh 20:11-18, terutama ay. 15), murid-murid yang menjala ikan di Tiberias tak tahu siapa sosok yang menunggu mereka di pantai (Yoh 21:1-14, periksa ay. 4); bahkan dalam kesempatan lain murid-murid mengira Yesus itu hantu (Luk 24:36-37, terutama ay. 37). Dalam keadaan itu, Tuhan membantu mereka agar mengerti apa yang sedang mereka alami dengan hal berikut.

Kedua, terjadi dialog antara Tuhan dan orang yang mendapat penampakan. Bisa terjadi sepanjang hari (dua murid dalam perjalanan ke Emaus), bisa juga hanya sekilas (Saulus dalam Kis 9:3-6), tetapi dapat juga terjadi berulang-ulang dalam masa 40 hari (Kis 1:3b). Bagaimanapun juga, hubungan yang terbangun dalam dialog ini mengarah pada perubahan yang besar dan mantap dalam diri orang yang bersangkutan.

Ketiga, penampakan membuat orang mulai memberikan kesaksian. Namun demikian, kesaksian ini bukan mengenai penampakan sendiri, melainkan mengenai sebuah pokok kepercayaan: Yesus bangkit (Mrk 16:9-20, terutama ay. 20; Yoh 20:18, perhatikan secara khusus bagian kedua ayat ini); yang bangkit itu sungguh ada di tengah-tengah para murid (Luk 24:34-35, terutama ay. 35, juga ay. 48); penampakan kepada Saulus menjadi titik balik kehidupannya menjadi Paulus sang rasul.

Berbagai pengalaman yang kadang-kadang disebut dengan nama "penampakan" tetapi yang serta-merta membuat orang melihat Tuhan malah mencurigakan. Begitu juga yang tidak ada unsur dialognya sama sekali. Apalagi penampakan yang wartanya hanya mengenai penampakan sendiri, bukan kesaksian yang membangun iman.

Salam hangat,

A. Gianto


Minggu Palma Tahun A - 16 Maret 2008

Minggu Palma 16 Maret 2008 Mat 21:1-11; 26:14-27:66 dan Yes 50:4-7

10 Maret 2008 14:40

Menyambut Utusan Ilahi!

Rekan-rekan!

Bacaan dalam perarakan liturgi Minggu Palma tahun ini mengisahkan peristiwa penyambutan Yesus secara meriah di Yerusalem (Mat 21:1-11). Di sini Matius menggambarkan kedatangannya sebagai raja yang memasuki kota tempat kemuliaannya yang sejati akan tampak, yakni kebangkitannya. Injil dalam perayaan Ekaristi menelusuri peristiwa-peristiwa dalam Kisah Sengsara menurut Matius mulai dengan pengkhianatan Yudas pada hari Rabu (Mat 26:14-16) yang berkelanjutan Kamis petang (26:17-75 perjamuan malam, penangkapan dan persidangan di Sanhedrin, penyangkalan Petrus), diikuti dengan kejadian hari Jumat (27:1-61 penetapan hukuman bagi Yesus, penyaliban, dan wafatnya, penguburan) dan Sabtu (27:62-66 penjagaan kubur).

Mengapa dia yang disambut meriah di kota kediaman Yang Maha Kuasa membiarkan diri ditolak oleh para pemimpin di situ? Mengapa ia tidak membela diri atau balas menyerang dengan kekuatan masa yang menyambutnya di sana? Dari bacaan pertama dari Yes 50:4-7 dapat diketahui sikap batin orang ini. Ia hamba yang taat seutuhnya pada Yang Mahakuasa, bukan karena ia memang mau menunjukkan ketaatan dengan menjalani segala akibat pilihan ini, melainkan karena kehidupannya memang sudah terarah untuk itu. Sang hamba mengakui bahwa ia diutus untuk menyampaikan Sabda Ilahi kepada siapa saja yang letih lesu, yang tidak lagi mampu mencari tahu kehendakNya. Terlalu capai dengan macam-macam urusan. Sang hamba juga mengakui tiap hari Yang Maha Kuasa sendiri menajamkan pendengarannya sehingga baginya jelas apa kehendakNya. Oleh karena itu ia dapat membawakan kehadiran ilahi ke tengah-tengah umat manusia. Ia tidak melawan bila dimusuhi. Ia membawakan kehadiran yang tidak menggetarkan. Inilah yang masih dikenali orang-orang yang menyambutnya di Yerusalem ketika mereka mendengar kedatangannya. Tetapi segera pendengaran dan penglihatan batin mereka digelapkan oleh sikap penolakan. Namun ia sendiri tetap pada jalannya: membawakan kehadiran ilahi di dalam keadaan apapun.

KEARIFAN - KUASA YANG LEMBUT

Menurut Mat 21:5, kedatangan Yesus di Yerusalem itu peristiwa yang sudah dinubuatkan nabi Zakharia 9:9, "Katakanlah kepada putri Sion (= Yerusalem beserta penghuninya): Lihat Rajamu datang kepadamu. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai betina dan seekor keledai beban yang muda." Kemudian dalam ay. 7 disebutkan, setelah orang-orang mengalasi punggung keledai betina dan anaknya, Yesus pun "menaiki kedua-duanya". Memang menaiki dua keledai itu sama anehnya bagi orang sekarang dan orang dulu. Tapi ini cara Matius mengatakan bahwa nubuat tadi kini sedang dipenuhi. Yang tak bisa dibayangkan secara biasa itu kini terjadi.

Dalam pemahaman Matius dan orang-orang yang penuh harapan pada zaman itu, Mesias yang mendatangi mereka ialah dia yang memiliki wibawa seorang raja (dalam teks Ibrani Zakharia ada penjelasan "ia adil dan jaya" - yang tidak ikut ditampilkan Matius karena sudah jelas) dan sekaligus tokoh yang "lemah lembut", maksudnya, yang dapat memahami kerapuhan manusia. Memang seolah-olah ada dua tokoh: satu sisi kebesaran, sisi lain kelemahlembutan. Kedua-duanya mendatangi Yerusalem bersama. Inilah gagasan yang hendak diutarakan oleh Matius secara surrealistik dengan mengatakan Yesus menaiki keledai betina dan anaknya. Matius mempertajam Markus yang menceritakan Yesus mendatangi Yerusalem menunggang seekor keledai yang belum pernah dinaiki orang (Mrk 11:1-10). Matius mengajak mereka yang mendengar Injilnya melihat dengan mata batin kedua sisi Yesus itu: sebagai raja yang penuh wibawa tapi juga sebagai utusan Tuhan yang lemah lembut. Dengan demikian nanti dalam mengikuti kisah penghinaan, penderitaan, penyalibannya orang akan tetap dapat melihat sisi Yesus yang anggun dan berwibawa itu.

Lebih sukar mengendarai keledai daripada tunggangan lain karena keledai biasanya bukan hewan penurut dan tidak berjalan cepat. Oleh karenanya, sering keledai hanya dipakai untuk mengangkut beban; pemilik berjalan di muka mengarahkannya, tidak menaikinya. Hanya orang yang "pintar" sajalah yang bisa mengendarainya tanpa ada yang menggiringnya di muka. Apalagi keledai yang belum pernah ditunggangi orang! Ingat kisah mengenai Balaam, seorang ahli ilmu gaib yang diminta raja Balak menenung kocar kacir umat Tuhan, tapi akhirnya Balaam yang menunggang keledai betina itu memahami apa dan siapa yang sedang dihadapinya dan tidak jadi menuruti permintaan raja angkara murka itu (Bil 22-24. khususnya 22:21-35). Kini Yesus memasuki Yerusalem di atas keledai, sebagai orang yang tahu mengarahkan tunggangan yang sukar ini. Maka jelas yang hendak dikatakan: ia orang yang penuh kearifan. Ia dapat menyatukan kejayaan dan kelemahlembutan, dua kenampakan yang sulit dibayangkan ada bersama pada diri orang yang sama.

Orang-orang menghamparkan pakaian di jalan ketika Yesus lewat. Apa maksud tindakan ini? Pertama-tama, dia yang lewat itu pasti tidak akan menjejak tanah yang kerap dipakai untuk menggambarkan kerapuhan serta kelemahan manusiawi. Yang mendatangi Yerusalem ini raja yang mengatasi kelemahan dengan kebijaksanaan yang lembut tapi berwibawa. Sekaligus tindakan menghamparkan pakaian itu juga menggambarkan kesediaan orang-orang untuk tunduk kepada dia yang sedang mendatangi dengan kebijaksanaannya itu. Pakaian membuat orang yang memakainya menjadi jelas. Bila dihamparkan berarti yang memakainya sedia menghamparkan diri di muka dia yang sedang lewat. Memang saat-saat ini kekuatan yang mengancam Yesus belum bertindak. Sebentar lagi kekuatan-kekuatan yang mau menyingkirkan kebijaksanaan ini akan tampil. Orang-orang yang menyambut kedatangan Yesus dan menyatakan diri tunduk kepadanya itu nanti juga akan ikut meneriakkan kematian baginya. Terlihat nanti betapa besar dan mengerikannya kekuatan yang melawan kebijaksaan itu. Sedemikian kuat hingga dapat menembus sampai ke lingkungan yang paling dekat dengan Yesus sendiri: Yudas.

KISAH SENGSARA

Kisah sengsara menurut Matius terdiri dari dua bagian. Bagian pertama ialah Mat 26:14 -27:10; bagian ini berawal dan berakhir dengan episode Yudas, yakni Mat 26:14-16 (Yudas menjual Yesus kepada imam-imam kepala) dan 27:3-10 (Yudas mengembalikan 30 perak yang diterimanya dari mereka, lalu menggantung diri). Bagian kedua Kisah Sengsara berawal dengan peran Pilatus (menahan Yesus dan melepaskan Barabas atas desakan imam-imam kepala, Mat 27:11-26) dan berakhir dengan tindakan Pilatus juga (atas permintaan imam-imam kepala ia mengirim penjaga ke kubur agar jenazahnya tidak diambil murid-muridnya pada hari ketiga, Mat 27:65-66). Kehidupan Yesus pada hari-hari terakhir itu memang dijungkirbalikkan oleh Yudas dan Pilatus. Tetapi pembaca yang jeli akan melihat bahwa kedua tokoh ini sebenarnya juga cuma sekadar menjadi tangan kotor "para imam kepala, orang Farisi, tetua-tetua Yahudi", yakni pihak yang membadankan kekuatan-kekuatan yang hendak membatasi gerak utusan ilahi yang datang ke Yerusalem itu.

Kisah tragis Yudas sering kurang didalami maknanya, atau paling-paling ia menjadi sasaran cercaan. Namun lebih membuat kita memahami misteri tindakan ilahi bila dilihat bagaimana Yesus menanggapinya. Ketika mengumumkan dalam perjamuan malam bahwa di antara yang hadir ada yang bakal menyerahkannya, Yesus tidak menuduh siapapun. Bahkan ketika Yudas ikut bertanya apakah dia itu orangnya, jawab Yesus hanyalah "Engkau telah mengatakannya." (Mat 26:25). Kata-kata ini maksudnya sama dengan "Coba pikirkan apa sebenarnya yang sedang kaulakukan ini!" (Bandingan dengan ungkapan sama yang dikatakan dalam interogasi di depan imam agung Mat 26:64 dan di hadapan Pilatus 27:11.) Yudas sebenarnya orang yang terlalu naif. Ia ingin mendapatkan relasi dengan kaum berkuasa, bukan untuk mencelakakan Yesus. Dalam hati kecil kiranya ia berangan-angan, toh Yesus akan dapat menghindari penangkapan dan konsekuensi lebih jauh. Ia kan orang yang luar biasa.

Yudas mempunyai persepsi sendiri mengenai siapa Yesus itu. Inilah yang membuat Yudas celaka. Dia salah satu orang yang terdekat dengan Yesus tetapi tak mau melihat siapa dia dan makin menutup hati dan pikiran sendiri. Yesus telah tiga kali mewartakan bahwa ia akan mengalami sengsara dan mati dan bangkit. Itu jalannya. Murid-murid tidak memahami. Juga Yudas. Tetapi Yudas bukan hanya tak memahami melainkan bertindak gegabah menolak untuk memahami dia. Ia mau mendapatkan keuntungan dengan perhitungan sendiri. Dengan demikian ia menyepelekan kebijaksanaan ilahi. Menurut Mat 26:24 Yesus berkata bahwa yang terjadi pada Anak Manusia, yakni dirinya, sesuai dengan yang dituliskan tentang dia, tapi celakalah orang yang olehnya dia diserahkan. Maksudnya Yudas. Lebih baik baginya sekiranya ia tidak dilahirkan. Artinya, tindakan orang itu sebetulnya tak bakal mengubah jalan yang sedang ditempuh Yesus. Yudas mengklaim bagi dirinya sendiri perkara yang sedang ditindakkan Yang Mahakuasa! Tragisnya, Yudas tidak menyadari hal ini. Ia baru terbangun ketika sudah terlambat. Dan sekali lagi ia masih mengira dapat mengurungkan yang terjadi dengan mengembalikan 30 perak yang diperolehnya. Ia makin terkurung dalam dirinya sendiri. Orang bisa memungkiri Yesus seperti yang dilakukan Petrus atau meninggalkannya seperti murid-murid lain, tetapi mereka tidak mendahului tindakan ilahi. Mereka itu bisa ditolong dan kembali. Tetapi dia yang mendahului tindakan ilahi atau mau mengurungkannya tidak bakal tertolong.

Disebutkan dalam bagian kedua Kisah Sengsara, istri Pilatus semalaman gelisah bermimpi dan keesokan harinya mengirim pesan kepada suaminya agar jangan mencampuri perkara "orang yang benar" itu (27:19). Ini isyarat dari Matius bagi pembaca Injilnya agar menengok kembali ke belakang, ke nasib tragis Yudas. Dengan menyerahkan Yesus sebetulnya Yudas "mencampuri perkara orang yang benar" dan mendapat celaka. Sekaligus pembaca diajak memeriksa dari dekat apakah Pilatus betul-betul mencampuri perkara ini dan sejauh mana. Sekalipun ia ikut campur, semua yang terjadi pada Yesus sebetulnya terjadi bukan karena Pilatus. Malah dalam seluruh bagian kedua kisah sengsara itu Matius memperlihatkan betapa konyolnya sang penguasa itu. Ia membiarkan diri dimanipulasi oleh pemuka-pemuka Yahudi.

Yesus tetap setia pada jalannya. Baginya tetap berlaku gambaran yang bertumpang-tindih antara raja yang jaya dan kelembutan yang membuatnya rapuh di hadapan kekuatan-kekuatan yang sedang berusaha menjungkirbalikkan kebijaksanaan dengan mempergunakan baik Yudas maupun Pilatus. Tapi Yesus tetap berada di dalam garis kebijaksanaan hingga akhir. Inilah kebesaran utusan ilahi yang dirayakan selama Minggu Paskah ini.

Salam hangat,

A. Gianto

Minggu, 16 November 2008

Jumat Agung 21 Maret 2008 - Tahun A



Rekan-rekan yang baik!

Barusan saya membicarakan beberapa perkara tafsir dengan Oom Hans. Ia tak keberatan surat-menyurat kami diperlihatkan kepada para peminat lain. Ada pembicaraan tambahan sekitar kaitan antara Yoh 13:1 mengasihi "sampai pada kesudahannya" (eis telos) dengan Yoh 19:30 "sudah selesai" (tetelestai). Juga ada postscriptum tentang Yes 52:13-53:12 yang dibacakan pada liturgi Jumat Agung.

Salam,

A. Gianto

______________






JUMAT AGUNG: "SUDAH TERLAKSANA!"


Oom Hans yang baik!

Bagaimana kabarnya! Semoga Oom dan Oma Mir sehat walafiat. Ini nih, saya sedang menyiapkan ulasan mengenai tulisan Oom yang dibacakan pada hari Jumat Suci.

Yesus berkata "Sudah selesai!" (Yoh 19:30). Kata seorang rekan, ini ungkapan rasa lega, penderitaan sudah lewat, rampung karya keselamatannya. Tapi saya malah ndak sreg dengan bahasa seperti itu. Rasanya kok kayak peentasan, layar turun, tamat, selesai, kukut. Aslinya Oom kan bilang "tetelestai", dari kata "telos", yakni akhir yang merangkum perjalanan dari awal, yang memberi arti pada semua yang telah dijalani. Rasa-rasanya Yesus mau bilang sudah terlaksana sampai utuh. Kayak versi Latin yang cespleng "consummatum est" dua m itu.Ingat-ingatnya consummatum itu kan dari consummare, con + summa, "merangkum semua jadi utuh", dan bukan dari consumere satu m, "menghabiskan" (makanan/waktu/duit), yang ada hubungannya dengan konsumsi. Untuk "consummatum est", orang Jakarta bilang udah kecapai, kalau di Jawa ya wis klakon. Oom gimana?

Ada lagi soal lain. Kalau ndak salah, Oom mau menggarisbawahi gagasan bahwa Yesus itu kurban Paskah yang diterima Yang Di Atas sana sehingga benar-benar menjadi silih dosanya umat manusia. Karena itu Oom memakai kronologi lain,yaitu penyaliban terjadi sebelum Paskah, ndak seperti Mark dll. yang menaruh Paskah pada perjamuan malam terakhir. Iya kan? Saya sudah pernah katakan di sebuah milis bahwa perjamuan terakhir di mana Yesus membasuh kaki murid-murid itu bukan perjamuan Paskah, melainkan sebelumnya.

Pada awal perjamuan itu Oom sebutkan bahwa Yesus mengasihi orang-orangnya yang di dunia ini dan betul mengasihi "eis telos", sampai pada kesudahannya (Yoh 13:1). Ini sepertinya antisipasi atau padahan bagi kata-kata Yesus " tetelestai", sudah terlaksana, yang diucapkannya pada saat terakhir di salib? Jadi kedua ayat itu saling menjelaskan. Ia mengasihi orang-orangnya sampai terlaksana sesuatu yang mengubah arah hidup mereka, dan hidupnya sendiri, begitu kan?

Salam hangat,

Gus

PS: Ada teman yang tanya nomer HP-nya Oom, mau nunut kirim SMS buat Oma Miryam seperti ini 2UBOK4ever, ;-) + :-)) . Kawan-kawan itu sih sekarang genggamannya hp dan bukan lagi rosario.

______________

Dear Gus, Peace!

You're absolutely right. The truth is, when he uttered "tetelestai" (Yoh 19:30), Jesus was trying to say, "Here I am, I've done everything to the end, now take it all, Father!" The Indonesian version "Sudah selesai" - "It's over" - doesn't sound quite right, I agree. Why not try "Sudah terlaksana /terpenuhi" or something to that effect?

As I said, the word "tetelestai" was spoken by Jesus to his Father. But we overheard it. It teaches much about him, about God, about what love means, the thing he dwelt on during that supper - at first I thought he was just being odd. But then this "consummatum est" is the key to all that. The penny drops!

Glad to hear you see the connection between sudah terlaksana/"tetelestai" here and "eis telos" said about his act during the last supper (Yoh 13:1). Yes, on that background, his death on the cross gives a fuller sense to what "loving one's own who are in the world (=still under the threat of darkness, evil power)" means. He accompanies them, and us, in our darkest moment. We can be sure now that we won't be abandoned by the one sent by the Father to bring us back to Him, the Source of Light.

As for your second question, quite, Jesus is the true Paschal lamb. Not that the Almighty likes blood gushing out of this man, by no means! The point is,his blood acts like the lamb's blood in Exodus 12:13. So when Jesus died on the cross in that sense, the Almighty took him and cast out darkness for good. That's the light of His Word. Did you get it? You're the exegete. By the way, don't try to reconcile my chronology of the passion with Mark's story and all that jazz. The washing of the feet, about which those three young men know nothing, is the preface to the true Passover meal, the sacrifice of the Lamb of God on the cross, not to the last supper. Jesus shares his origin and destiny so that we can become sons and daughters of the Almighty. I read your note on the washing of the feet; I sort of like the idea of taking part in Jesus' "sangkan paran". See, I am no stranger to your cultural heritage.

Ma Miryam is okay. She was amused by the SMS - a young seraph taught her to read the emoticons. She dictated her response: Thanx >:), ;-*. But let's not talk gibberish. I don't use a cell phone. She does. But she prefers to keep her number unlisted.

Regards,

Hans

______________

Oom Hans yang baik!

Terima kasih banyak. Mau nanyak lagi. Ini kelanjutan dari yang di atas. Ketika lembing ditusukkan, yang keluar dari lambung Yesus ialah darah dan air (Yoh 19:34). Apa sih maksud Oom? Mark dkk. tidak tahu perkara itu. Kemarin saya tanya Luc, dia bilang ah, Oom Hans aneh-aneh saja, paranormal sih.

Tolong sampaikan salam buat Oma Miryam begini :-* 4U.

As ever,

Gus

______________

Dear Gus

Like our ancestors, we imagine blood as the seat of life and water as the force that sustains life. With Jesus' death on the cross, there came forth life and life-sustaining force - that's what I was trying to say. I'm no physician like Luc, but I saw more. Didn't I write somewhere in my chapter 19 that I witnessed all this. I still want to share this truth with all of you.

Ugh, it's two am, :-o B4N

Hans

______________



POSTSCIPTUM

Masih ada beberapa soal yang saya bicarakan dengan Oom Hans di beberapa kesempatan lain. Ini ringkasannya. Saya beritahukan kepadanya bahwa dalam liturgi Jumat Agung dibacakan juga Kidung Hamba Tuhan Yes 52:13-53:12. Ada satu hal yang mengusik di situ. Sang hamba itu mengalami penderitaan, dihina, dianggap sama kayak penjahat justru agar mereka yang memperlakukannya dengan kekerasan ini selamat. Tuh disebut dalam 53:4-7 bahwa sang hamba menanggung penyakit kemanusiaan, ia diremukkan karena kejahatan umat manusia,.dan ia diam seribu bahasa dan terus menjalaninya. Lebih aneh lagi dikatakan, coba lihat sendiri, hamba itu "dipukul dan ditindas Allah" (53:4) dan "Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan" (53:10). Aneh kan? Saya tanyakan apa boleh kita pahami bahwa sang hamba itu "tumbal" bagi kedosaan manusia, kambing hitamnya kebobrokan manusia? Untuk membereskan kemanusiaan Yang Maha Kuasa menimpakan hukuman yang semestinya jatuh kepada orang banyak kepada satu orang ini, hamba Tuhan itu? Menarik, tapi apa beres penalaran ini?

Jawaban Oom Hans menarik. Menurutnya boleh saja pakai teori kambing hitam,malah ia tahu ada pelbagai teori yang mirip-mirip yang sudah pernah dipakai: teori silih, denda, ganti rugi, melunasi hutang. Tetapi apa akan sampai ke pokok yang mau disampaikan Kidung itu sendiri? Tantang Oom Hans. Menurut beliau, bila diamat-amati, yang hendak disampaikan dalam kidung tadi ialah peran sang hamba mendamaikan kembali manusia dengan Yang Ilahi. Malah bisa dikatakan lebih tajam lagi, sang hamba mengajak kemanusiaan mengenali kembali jejak-jejak Yang Ilahi dalam dirinya yang semakin sulit dikenal karena manusia sendiri kehilangan kepekaan ke sana. Yang dilakukan hamba itu ialah menunjukkan bahwa keburukan serta kekerasan manusia itu ialah kenyataan yang tidak bisa didiamkan. Oom Hans menyarankan agar teks kidung tadi dibaca dengan empati,sampai bisa rada ikut berpikir dan merasa seperti penyairnya yang lambat laun menyadari bahwa kebobrokan dalam diri kemanusiaan - yakni penderitaan sang hamba - sebenarnya ialah penderitaan masing-masing kita, hanya kita telah terlalu mengemohi dan melupakannya dan ingin melimpahkan ke pihak lain,mengkambinghitamkannya. Lebih ironi lagi, orang malah menganggap bahwa Yang Maha Kuasa juga berlaku begitu: melimpahkan hukuman yang mestinya dijatuhkan ke umat manusia semuanya hanya kepada hambanya yang setia ini. Ayat 4 dan 10 itu sebaiknya dibaca sebagai pernyataan ironi sehingga orang bisa berpikir, bukan diambilalih sebagai dasar penegasan teologis mengenai kelakuan Yang Ilahi menuntut tumbal. Oom Hans menyarankan agar kidung itu dan tentunya kisah sengsara Yesus hendaknya didalami sebagai penjernihan batin guna mengenali keadaan manusia yang tidak menyadarinya penderitaan yang hakiki: sisi kemanusiaan yang gagal menampilkan kehadiran ilahi, dan hanya kekerasan yang entah dari mana muncul. Sang hamba dalam kidung itu menggugah orang untuk mulai sadar akan ketimpangan ini. Juga penderitaan dan kematian Yesus di kayu salib hendaknya membuat orang berpikir kembali mengenai kemanusiaan sendiri. Bila ini tafsir ini diteruskan, kita memang tidak perlu memakai gagasan tumbal atau kambing hitam dan teori-teori lain yang sifatnya statis, hanya potret kaku dua dimensi. Yang disarankan Oom Hans ialah melatih kepekaan batin mengenali jejak-jejak ilahi dalam kemanusiaan sendiri sejelek, sehina apapun. Dan jejak-jejakNya akan makin terang dan membawa kedekatNya sendiri.

Salam dari Jakarta,

A. Gianto

Dari http://www.mirifica.net/ - Jendela Alkitab

Kamis Putih 20 Maret 2008 (Yoh 13:1-15 dan Kel 12:1-8; 11-14)




Rekan-rekan yang budiman!

Hanya dalam Injil Yohanes sajalah dijumpai kisah pembasuhan kaki para murid (Yoh 13:1-15) yang dibacakan pada Pesta Perjamuan Tuhan pada hari Kamis Putih.Memang lazim orang membasuh kaki sendiri sebelum masuk ke ruang perjamuan sebagai ungkapan datang dengan bersih. Dan hanya tamu yang amat dihormati saja,misalnya seorang guru atau orang yang dituakan, akan dibasuh kakinya. Bila dilakukan, akan dijalankan sebelum perjamuan mulai. Tetapi Injil Yohanes menceritakan kebalikan peran-peran tadi. Yesus sang guru itu membasuh kaki para muridnya. Lagi pula pembasuhan ini terjadi selama perjamuan sendiri, bukan sebelumnya. Jadi memang hendak dikatakan ada hal yang tidak biasa. Kiranya pembasuhan kaki di sini ditampilkan bukan semata-mata sebagai tanda memasuki perjamuan dengan kaki bersih, tetapi untuk menandai hal lain. Apa itu? Baiklah didekati kekhususan Yohanes dalam menyampaikan kejadian-kejadian terakhir dalam hidup Yesus.




KAMIS PUTIH: PEMBASUHAN KAKI

KAITAN DENGAN BACAAN PERTAMA Kel 12:1-8; 11-14.

Yohanes menyampaikan kejadian pada hari-hari terakhir Yesus dengan cara yang agak berbeda dengan ketiga Injil lainnya. Dalam Injil Markus, Matius dan Lukas,kedatangan Yesus ke Yerusalem mengawali peristiwa-peristiwa yang mengantar masuk ke dalam penderitaan, kematian dan kebangkitannya nanti, termasuk di dalamnya perjamuan Paskah. Yohanes lain. Kedatangan Yesus ke Yerusalem dan pembersihan Bait Allah dipisahkan dari peristiwa salib dan kebangkitan. Bagi Yohanes,serangkaian kejadian yang berakhir dengan kebangkitan itu justru berawal pada perjamuan malam terakhir. Berbeda juga dengan ketiga Injil lainnya, perjamuan ini bukan perjamuan Paskah, melainkan perjamuan malam yang diadakannya sebelum Paskah. Bagi Yohanes, Paskah yang sejati terjadi dalam pengorbanan Yesus di salib.

Dengan demikian Injil Yohanes membaca kembali pengorbanan Yesus di salib sebagai perayaan Paskah yang dahulu mulai sebagai peringatan saat Tuhan mulai memimpin umatNya keluar dari tanah Mesir dengan kuasa besar sebagaimana dibacakan dari Kel 12:1-8; 11-14. Darah domba kurban Paskah yang dahulu dioleskan pada bingkai pintu rumah (Ke. 12:8) menandai darah yang terpoles pada kayu salib. Salib menjadi ambang memasuki hidup baru bersama Yang Ilahi. Bingkai pintu yang terpoles darah domba itu juga menjadi tanda bahwa di rumah itu tinggal umat yang akan dipimpin keluar dari tanah Mesir dan penghuninya tidak dihukum Tuhan (Kej 12:12-13). Salib yang ditandai darah pengorbanan Yesus menjadi tanda bahwa yang berada di balik salib itu ialah orang-orang yang diselamatkan. Namun dalam peristiwa perjamuan yang dikisahkan Yohanes, semua ini baru terjadi nanti pada saat Yesus disalibkan, wafat, dan kurbannya menjadi tanda keselamatan siapa saja yang ada bersamanya. Sekarang, dalam perayaan perjamuan malam sebelum Paskah hendak disampaikan bagaimana semua ini bisa terjadi, bagaimana pengorbanan ini memang dimaui oleh Yang Maha Kuasa dan utusannya, yakni Yesus, kini siap menjalankannya. Pengorbanan ini dijalaninya karena mengasihi "sampai pada kesudahannya" yang diungkapkan Yohanes pada awal perjamuan ini (Yoh 13:1). Marilah kita simak dari dekat peristiwa perjamuan ini


MEMBASUH KAKI PARA MURID

Yohanes juga menekankan, Yesus sadar bahwa dirinya "datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah" (ay. 3). Karena itu mereka yang mengenalnya akan mengenali Yang Ilahi dari dekat. Ini semua diajarkan Yesus kepada para murid terdekat pada perjamuan malam terakhir itu dengan membasuh kaki mereka. Dia yang sadar berasal dari Allah dan sedang kembali menuju kepadaNya ingin menunjukkan bahwa orang-orang terdekat itu sedemikian berharga, sedemikian terhormat. Lebih dari itu, ia ingin berbagi "sangkan paran" - dari siapa dan menuju ke siapa - dengan mereka. Inilah yang dimaksud dengan mengasihi "sampai pada kesudahannya" (ay. 1, Yunaninya "eis telos"). Tidak setengah-setengah melainkan hingga tujuan kedatangannya terlaksana, yakni membawa manusia ke dekat Allah, asal terang dan kehidupan.

Petrus terheran-heran dan tak bisa menerima gurunya membasuh kakinya. Yesus mengatakan bahwa kelak ia akan mengerti walaupun kini belum menangkapnya (ay.6-7). Tetapi Petrus belum puas dan bersikeras menolak dibasuh kakinya oleh gurunya itu. Pada saat inilah Yesus menjelaskan, " Jikalau aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam aku." (ay. 8). Dia yang "sangkan paran"-nya ialah Allah sendiri mau berbagi kehidupan dengan para murid. Dan berbagi asal dan tujuan kehidupan inilah jalan keselamatan bagi manusia. Bila asal dan akhir itu Allah sendiri, tentunya yang di maksud ialah Allah sumber terang, sumber kehidupan. Utusannya itu datang ke dunia yang masih berada dalam ancaman kuasa gelap untuk membawa kembali orang-orang yang dekat padanya kembali ke sumber terang, kepada Allah, ke sumber kehidupan sendiri. Itulah "sangkan paran" yang diungkapkan di dalam perjamuan ini.

BERBEKAL TELADAN

Pada kesempatan itu Yesus juga mengatakan bahwa pembasuhan kaki itu disampaikan sebagai teladan bagi para murid, agar mereka berbuat seperti itu satu sama lain (ay. 15). Teladan ini kemudian menjadi bekal kehidupan orang-orang yang percaya bahwa Yesus itu datang dari Allah dan pulang kepadaNya setelah berhasil memperkenalkan siapa Allah itu sesungguhnya. Boleh dikatakan saat itulah lahir kumpulan orang yang hidup berbekal sikap Yesus yang menganggap sesama sedemikian berharga sehingga pantas dilayani dan dihormati. Inilah Gereja dalam ujudnya yang paling rohani, paling spiritual.

Dalam arti inilah Gereja berbagi "sangkan paran" dengan Yesus sendiri. Hidup mengGereja yang berpusat pada ekaristi baru bisa utuh bila dijalani dengan bekal yang diberikan Yesus tadi. Hanya dengan cara itu Gereja akan tetap memiliki integritas. Memang masih berada di dunia, masih berada dalam kancah pergulatan dengan kekuatan-kekuatan gelap, tetapi arahnya jelas, ke asal dan tujuan tadi: ke Sumber Terang sendiri bersama dengan dia yang diutus olehNya.

Karena itu tak perlu heran bila para murid - dan Gereja - tidak semuanya bersih. Yesus berkata dalam ay. 11 "Tidak semua kamu bersih." Kata-kata itu bukan mencela melainkan mengakui kenyataan bahwa ada kekuatan-kekuatan gelap.Nanti pada saat ia kembali kepada Allah, kekuatan ilahi akan tampil dengan kebesarannya dan saat itu jelas kekuatan-kekuatan gelap tidak lagi menguasai meskipun tetap dapat menyakitkan. Penderitaan ini tidak akan memporakperandakan kumpulan orang-orang yang percaya kepadanya. Malah menguatkan harapan.


Salam dari Jakarta,

A. Gianto


Dari - http://www.mirifica.net/ - Jendela Alkitab